Integritas

Sumenep-baruBersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Begitulah kalimat yang pernah digelorakan oleh Soekarno. Sederhana, tetapi benar-benar sarat makna. Kalimat yang dulu terpatri kokoh dalam hati dan pikiran para pejuang, tokoh dan ulama itu ternyata mampu menjadi benteng kuat melawan penjajah. Iya, resepnya integritas; bersatu, teguh, jujur, bertanggung jawab, dan setia pada tanah air.

Hanya dengan satu kata, kita bisa merdeka. Sungguh luar biasa. Namun, melihat beberapa fakta, seolah kini ia hanya menjadi hiasan semata, sebab di negeri ini ‘integritas’ tak lagi jadi spirit untuk berjuang. Bahkan hanya dijadikan sebagai senjata untuk melawan dan menyerang. Ah, pantas kiranya kita mengelus dada.

Flas back ke belakang. Konon, kita akan menemukan tembok besar di Tiongkok kuno. Tembok yang dibangun melalui keutuhan hati dan pikiran; kuat, tebal dan tinggi. Terbukti, sejak tembok itu dibangun dalam seratus tahun pertama, tiga kali diserang oleh musuh-musuhnya, tak pernah goyah sedikitpun, tak mampu menerobos dan menghancurkan tembok yang tinggi itu, hingga mereka sangat yakin, tidak seorang pun yang bisa memanjatnya.

Namun, suatu ketika, sang musuh mencari strategi lain. Strategi itu pun sungguh jitu, hingga akhirnya, musuh bisa masuk. Hanya satu sebab, musuh mampu merayu dan menyuap penjaga pintu gerbang perbatasan itu.

Apa yang bisa kita petik dari itu? Boleh saja, orang Tiongkok berhasil membangun tembok batu yang kuat dan dapat diandalkan, namun lagi-lagi mereka gagal membangun integritas pada generasi berikutnya. Sayang seribu sayang, seandainya, penjaga pintu gerbang tembok itu memiliki integritas yang tinggi, ia tidak akan menerima uang suap itu yang tidak hanya menghancurkan dirinya tapi juga orang lain.

Betapa sering kita meremehkan dan memandang sebelah mata terhadap arti penting sebuah integritas. Padahal, walaupun ada pengorbanan dan harga yang harus dibayar demi sebuah integritas, akan lebih banyak resiko dan akibat fatal yang terjadi jika harus mengorbankan integritas. Bila kita tidak memperhatikan sikap dan tindakan, kenikmatan sesaat seringkali berujung pada akibat buruk yang berkepanjangan. Ingat, Indonesia besar karena semangat berjuang bersama, jujur, bertanggung jawab dan setia pada tanah air.

Oleh Achmad Fauzi

Wakil Bupati Sumenep




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *