Inilah Naskah Lomba Baca Puisi “Sahabat Achmad Fauzi”

Salam Seni dan Budaya! Dalam rangka mengiringi perjalanan kalender bulan suci Ramadhan 1437 H. Madura Expose kerja bareng Sahabat Achmad Fauzi dan didukung oleh harian Koran Madura, Ruma Aspirasi Pemuda (RuAs), Portal Madura, News Madura,Disbudparpora, Kominfo Sumenep menggelar Festival Baca Puisi Sumenep Terbuka 2016. Acara ini akan digelar pada tgl 19-20 Juni 2016 pukul 19.30 di Lapangan Gotongroyong Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Segera daftarkan diri anda via SMS di CP: 081803157059. Panitia akan memilih Juara 1, 2, 3, & harapan 1 & 2. Meraih Tropi Sahabat Achmad Fauzi, Sertifikat, dan uang pembinaan. Berikut Naskah puisi pilihan yang sudah disediakan panitia:

Nyanyian Kudus Dan Pelacur Kota
Karya: Ferry Arbania

pelacur-pelacur jalanan itu
adalah sempalan bunga yang tertusuk ilalang.
Dihatinya masih ada wewangian kudus yang menyeberbak.
Melantunkan syair dajjal dan berhala.

pelacur-pelacur jalanan itu
adalah puisiku yang mabuk dalam syair patah hati
mengembalakan tangis dan rinduku yang membatu,
hingga malam berhadiah bulan, kutemukan mabuk dalam lumatan birahi.

pelacur-pelacur itu mendaki jalan setapak
menyingkap kain putih cinta
memelorotkan celana kesayangan dengan perih
bahkan dibibirnya yang memerah, dia mendekatiku,
meciumiku dengan selembar tanya “Apakah engkau ingin kupuaskan..??

pelacur-pelacur jalanan itu adalah segerombol tangis
yang disudahi dengan kenyal kesal dan dendam
sebab tak ada lagi yang hendak dibanggakan,
meski hati meratap dalam nyanyian sorgawi
menganyam air mata
tatkala pejantan membacok selangkangannya yang patah jadi sia-sia

pelacur-pelacur itu tak hendak menelanjangi keagungan Tuhan
mereka hanya ingin menangis disetiap dada lelaki,
karena sang pemuja cinta telah melahirkan pelacur-pelacur kota.

pelacur-pelacur jalanan itu adalah titian api
darah mereka membara jiwa mereka terpanggang dalam syahwat yang dijinakkan,

dan pelacur-pelacur jalanan itu
telah menggubah syair berhala menjadi nyanyian kudus talbiyah
bernyanyi dalam syahadat cinta yang agung

pun ketika dadanya ditelanjangi maut,pelacur-pelacur itu meregang,
meraung dan merintih-rintih dalam nikmatnya pengharapan.

Puisi Mabuk dan Gerah Kelamin
Karya: Ferry Arbania

Suatu saat kau pasti datang padaku, pasti.
hari ini kau tak bisa bicara padaku, sebab aku pejabat
dan besok giliranmu mencerca di media, menuduhku maling dan tikus berdasi, mercy pula.

rawa-rawa dan musik awara kini tak lagi diperdengarkan,
dan kau pasti menfonisku bajingan, kolod dan tak mau berubah, “bedebah”.

caci maki di negri sunyi, sama halnya meneriaki berhala-berhala itu
entah itu yang mana, kau pasti juga tidak tahu, persis seperti aku. “Mati kutu”.

dulu, sepuluh tahun sebelum suramadu diresmikan SBY yang presiden
anak laki-laki dan perempuan berebut kitab suci,
tapi kini, kesucian gadis-gadis itu malah diperebutkan,
silih berganti dikorankan, ditelivisikan dan radio ku juga ikut mengabadikan desah dan jerit perih mereka di sebuah berita.

orang-orang sesudah kemerdekaan laut jawa- madura,
senang membaca berita, beruporia dengan informasi aktual dan tekini,
tapi kita tetap miskin kesadaran, miskin kepedulian dan kata-kata
untuk menentang kegelapan di ruang hati.

sembilan bulan ibu mengandung, menanti tangis sang buah hati,
tapi tiga bulan perawan-perawan kita diracuni sperma,
sebelum tuhan mengetuk palu, senggama seringkali dimulai sebelum ijab qobul,
kepemimpinan lebih sedikit diteladani, tetapi yang subur adalah caci maki ketidak puasan.

ada apa dengan negeri percikan surga ini,
ibu-ibu mabuk dalam lautan pesan singkat disebuah hp,
merapal rindu, melukis kebohongan dengan gincu kepura-puraan.

tuan muda yang terhormat berorasi dikebun-kebun jati,
sambil sesekali meluruskan dasi kehormatan,
sementara puan muda dirumah sering kesakitan pantat, sakit punggung dan sesak napas,
lantaran semerbak sayangnya tak pernah diremas dan diraba.

mau kemana lagi kita,
dimana-mana perselingkuhan meraja lela,
perceraian memupuk data pengadilan agama
namun anehnya bukan dari keluarga dan saudara-saudara kami yang miskin kekuasaan.

perempuan, jabatan dan uang negara,
jangan lagi di dadu, jangan lagi dikocok-kocok,
mari simpan kelamin ini, dirahim istri kita sendiri.
Semerbak Sayang
Karya: Ferry Arbania
Ciumlah aku dengan miskinnya kata
jangan pergi sebelum fajar berucap jingga
sebab telah kutandai dinding hatimu dengan lencana

dan puisi-puisimu yang telah lama menyimpan benih rindu
ku nyatakan lagi takjub ini padamu
menara hati yang menjulangg diangkasa daun
telah kupetik mimpimu
sembari menciumi semerbak aromanya pada kalbu

malam ini kusaksikan gelombang petik laut berkibar kembali
menemani ritual jiwa yang hangat dihantar bianglala surgawi
lalu, kucelupkan getar dada ini pada kolam wajahmu yang nyaris sempurna
duh, mataku terkantuk pula didada benua

wahai cinta laut dan gelombang cahaya
dimanakah cinta ini mesti kupahatkan lagi
sementara bidadari ini, begitu hangat menggodaku

Saat Cinta Tak lagi Bertasbih
Karya:Ferry Arbania

Cinta telah tumbuh diakar hati yang memar
Derai gerimis mengantarkan api pada sebuah keterasingan
Ketika tak seorangpung menemukan kesendirianku
Tinggal wajah ku yang lapuk dimangu resah
Akankah kau hadir menyampaikan salam rindu untukku Kekasih,

seberapa jauh ketakutan itu muncul
Ketika ruang dan waktu menepis pertemuan cinta
Aku kan kembali pada resahku
Lantaran kutahu kau tak lagi sendiri
Tapi hari ini aku tak ingin jadi pecundang
Dari kamar-kamrar kecil yang menghidupkan pengharpan

Disinilah aku membedah jendela waktu Melihatmu terhuyung-huyung melawan angin
Lalu lari terbirit mengejar pukau Yang nyalang bersama pecahan kabut diwajahmu
Tersenyumlah kekasih,meski sebatas mimpi
Ku tak ingin kau tenggelam dan larut dalam mabukku
Biarlah kusimpan sendirii tarian ilusi
Sambil mengekalkan sejarah yang telah menfosil di sela degup jantungmu
Sebab kemarau telah merontokkan aksara hidup kita
Dan malam datang menganyam daun mimpi yang kita sakralkan.
Kubaca lagi Surat Kabar Hari Ini
Karya:Ferry Arbania

Seorang anggota dewan Amerika meminta maaf pada istrinya
Lantaran mengobral tubuh terhormatnya pada gadis-gadis cyber
Yang dijantani dengan suara-suara dan gambar porno sendiri

Kubuka lagi koran sebelumnya
Ada pejantan tangguh membuntingi anak tirinya yang lulus Ujian Nasional
Lainnya lagi menulis oknum wartawan mingguan
memeras sepasang kekasih yang ketangkap basah mesum di tepi pantat yang ngilu.

Presiden dan sejumlah kepala negara yang tengah berkuasa
Sering dibuat tak bisa nyenyak tidur dan makan enak
Lantaran headline news hari ini mengusung berita unjuk rasa
Tapi tidak dengan bank century, orang mulai menyangsikan penguasa

Kulipat saja koran pagi demi berselancar di dunia maya
Kutemukan berita mengapung di www dot com, www dot co dot cc,
Sedang mengumbar buah dada artis cantik ibukota
begitu juga di www dot co dot id, ada yang khusuk berhutbah liputan khusus pengadilan negeri.

Tiba-tiba kurindukan sajak-sajak Gayus Tambunan jadi pahlawan
Menguak pelaku korupsi dimuka Indonesia
Otak yang encer, alangkah bahagianya orang-orang yang tidak korup itu
huaha,,,hahua,..hahaaaaaaaaaaaaa!!!




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *