Ramadan Terbaik

SahabatAchamadFauzi.com – Konon, ada seorang kontraktor dalam satu perusahaan property di Jakarta. Jujur, profesional dan selalu menghasilkan karya terbaik dalam setiap pengerjaan proyeknya. Hingga membuat sang direktur perusahaan terpikat dan tak mau kehilangan sosok seperti dia. Namun, saat waktu terus berjalan, tiba-tiba kontraktor tersebut mengejutkan sang direktur. Sang kontraktor ternyata berencana mengundurkan diri. Ia ingin sekali menikmati hidup bersama keluarga. Bagi dia, di umurnya yang sudah 50 tahun bukan harga lagi yang menjadi tujuan hidupnya, tetapi kedamaian dan berkumpul bersama isteri dan anaknya.

Sementara direktur tidak pernah mau sang kontraktor mengundurkan diri. Karena perusahaan yang ia pimpin besar karenanya. Ia paling berjasa dalam kejayaan perusahaan propertinya. Sehingga mafhum jika kontraktor itu berhenti, maka otomatis perusahan akan terasa sangat kehilangan, sebab sulit baginya untuk mencari pengganti sejujur dan seprofesional dirinya. Apa boleh buat, sang direktur tak bisa berbuat apa-apa, karena setiap orang berhak memilih dan bahagia dengan caranya sendiri.

Akhirnya, kontraktor itu membuat surat pengunduruan diri. Namun saat ia datang dan menyampaikan surat pengunduran dirinya kepada direktur tersebut, sang direktur meminta kepadanya agar dibuatkan rumah terbaik untuk yang terakhir kalinya sebagai syarat terkahir pengunduran. Hitung-hitung sebagai salam perpisahan dari pengabdian dan kinerja selama ini. Sang direktur memberikan tempo satu tahun agar rumah yang ia buat dikerjakan dengan baik dan sempurna. Awalnya, kontraktor itu tidak mau, karena ia hanya ingin berhenti dan hidup bersama keluarganya. Namun, akhirnya, kontraktor itu mau mengerjakan rumah itu walapun terpaksa.

Bulan berganti bulan, sang kontraktor itu akhirnya mampu menyelesaikan rumah tersebut dalam jangka waktu yang 8 bulan. Tetapi karena dalam keadaan terpaksa, rumah yang seharusnya dikerjakan dengan sempurna dan terbaik selama menjadi kontraktor, ternyata bukan karya terbaiknya, malah sebaliknya, terburuk. Rumah itu dibuat dengan asal-asalan dan kualitas yang kurang jelek.

Akhirnya, ketika kontraktor menghadap dan memberikan kunci rumah yang ia buat kepada sang direktur, ternyata kontraktor terkejut saat direkturnya mengatakan kalau rumah yang ia buat sebagai hadiah bagi sang kontraktor, bukan untuk kantornya. Sungguh terkejut sang kontraktor mendengar apa yang dikatakan direkturnya. Ia terlihat lemas dan penuh penyesalan. Ternyata rumah yang dibuat secara asal-asalan dengan kualitas yang jelek bukan untuk keperluan kantor, tetapi untuk dirinya dan keluarga. Sungguh, nasi telah menjadi bubur, selama menjadi kontraktor, karya paling terburuk adalah rumah yang ia buat terakhir ini.

Apa yang bisa kita petik dari narasi cerita di atas? Jawabannya, karena kesempatan terbaik itu tidak datang dua kali. Sama halnya dengan bulan ramadan, ramadan selalu terbaik. Inilah kesempatan bagi kita semua untuk melakukan segala amalan terbaik selama bulan ramadan. Karena kita tak pernah tahu tentang skenario Tuhan. Bahkan bisa saja ramadan kali adalah yang terakhir kalinya. Tahun depan tidak ada yang menggaransi bisa bertemu lagi dengan bulan penuh berkah ini. Tentu, jangan pernah berpikir kalau kesempatan itu datang dua kali. Kesempatan terbaik dalam hidup itu hanya sekali. Na’udzubillah, semoga kita tidak sama dengan bapak kontraktor tersebut. sehingga tidak berbuah penyesalan; punya ending yang menyedihkan sebagai kontraktor.

Mari ramadan kali sebagai momentum untuk berlomba-lomba melakukan amalan terbaik. Agar kita tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sungguh, sangat rugi jika ramadan kali ini menjadi ramadan terburuk bagi kita. Harus terbaik. Salat-salatnya harus terbaik, sadaqahanya terbaik, dakwanya terbaik, hingga tilawahnya juga harus terbaik. Semuanya harus terbaik. Siapa tahu, bulan ramadan kali adalah yang terakhir bagi kita. Wallahu A’lam

Oleh Nia Kurnia Fauzi

Ketua GOW Sumenep




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *