Berdayakan PKL, Menata Kota dan Prestasi Adipura

Setelah absensi online, Achmad Fauzi kembali bikin kejutan. Ia membuat kebijakan yang tak biasa. Menata Kota dengan merelokasi Pedagang Kaki Lima (PKL). Mereka yang biasa menggantungkan hidupnya dari keramaian Taman Bunga sedikit shock dan terkejut mendengar akan dipindah ke Lapangan Giling.

PKL melawan, dan menuntut keadilan. Mereka berdemo. Kebijakan Achmad Fauzi mengundang kontroversi dari berbagai pihak. Cibiran, cemohan hingga amarah publik tak bisa terhindarkan, terutama para PKL. Fauzi dinilai telah mengebiri hak PKL untuk hidup sejahtera hanya demi mengejar Adipura.

Fauzi sempat membiarkan hal semacam itu menjadi bola panas. Wabup kelahiran Sumenep 38 tahun silam itu sengaja apatis untuk mendinginkan emosi. Menjelaskan secara detail tentang kebijakan itu ketika PKL dalam keadaan emosi ibarat berteriak di padang pasir.

Namun, mantan Jurnalis itu dengan sabar menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada PKL. Akhirnya, saat semunya reda, Wabup yang populis itu menjelaskan bahwa merekokasi bukanlah ajang meraih piala. Kebijakan itu malah berpihak kepada PKL dengan disediakan tempat khusus yang lebih aman dan lebih berdaya. “Kami boleh dihujat, tetapi sejatinya derajat PKL kami angkat. Jauh dari pungli dan calo,” ucapnya saat ditemui di ruangannya.

Fauzi pun dengan tegas mengatakan bahwa stigma miring pemerintah dengan menyengsarakannya tidak benar sama sekali. Relokasi juga untuk membuat Sumenep semakin indah. Juga membuat Masjid Agung lebih sakral. Sekarang! Kita sudah mulai merasakan hasilnya dari kebijakan itu, Sumenep kembali meraih piala Adi Pura dan PKL terakomodir dalam satu tempat. Sakralitas masjid pun terjaga sebagai peninggalan sejarah.

w“Sekarang terbukti toh, Taman Bunga bukan hanya terlihat asri dan indah, tetapi sejuk di pandang. Masjid Agung kita juga semkain sakral, jauh dari kebisingan dan bunyi-bunyian. Ibadah pun berjalan dengan khusyuk dan tenang. Soal tahun ini, Sumenep mendapat Adipura, itu hanya poin dari perjuangan semata,” ungkapnya.

Selain itu, kata orang nomor dua di Kabupaten Sumenep, tata ruang kota juga perlu ditata. Ia lihat, tidak hanya pembangunan yang berdiri serampangan, juga akses lalu lintas yang berlalu begitu saja. “Sumenep memang tidak seperti Jakarta atau Surabaya, namun tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti akan lebih parah. Apalagi Sumenep jadi magnet wisatawan dengan dua destinasi wisata yang indah dan eksotis seperti Gili Labak dan Giliyang. Sehingga jika kota tidak segera ditata akan berdampak cukup signifikatan terhadap Sumenep. Macet disana sini, kalau tidak sekarang kapan lagi, mau menunggu macet. Kita harus sedia payung sebelum hujan,” jelas Fauzi saat diingatkan tentang kebijakan yang awalnya penuh kontroversi.

Sebelum kebijakan itu dilaksanakan, Fauzi sudah berkomunikasi dengan Bupati Busyro, bahwa dampak kebijakan ini akan memunculkan amarah publik. Lebih-lebih para PKL. Sebab kebijakan ini dianggap mengebiri mereka. Namun, Bupati menyampaikan bahwa perjuangan takkan selalu mudah. “Walaupun mendapatkan cacian, tetapi caci maki kita lawan dengan bukti,” imbuh Wabup yang dikenal supel itu.

Kini, semua orang harus mengerti jalan pikiran pemerintah, agar kontroversi itu berakhir simpati. Karena, selain pedagang tak lagi kepanasan dan kebanjiran, mereka juga bebas dari pungli.

(bersambung)
TIM Achmad Fauzi Centre (AFCe)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *