Belajar Nasionalisme dari PKL

Mari belajar membuang “rasa gengsi” pada temapatnya! Frasa ini, bukan maksud menyamakan gengsi dengan sampah, sekalipun memang mirip. Namun, harus diakui sebab gengsi, kadang orang bisa berprilaku sombong, angkuh dan lain-lain. Karena gengsi pula, kadang lupa dengan diri kita, sahabat dan  tempat tinggal kita. Lho kok, ya!

Ingatkah kalian, beberapa hari sebelum hari kemerdekaan, saat ramai-ramai berbagai pihak dan kalangan baik secara individu maupun kelompok mengucapkan Dirgahayu Indonesia. Sambil memajang bendera merah putih di bahu-bahu jalan, di depan perkantoran dan lembaga-lembaga. Eh, malah ada salah satu kelompok memasang bendera merah putih “terbalik dan setengah tiang”.

Tindakan nyentrik dari sebuah organisasi itu, sempat meramaikan kota Situbondo. Lalu, menyebar ke daerah-daerah bahkan kota lain bahwa PKS memasang bendera Merah Putih terbalik. Entahlah, alasan apa yang memicu pihak mereka melakukan tindakan tidak lumrah itu. apa mungkin mereka menyimpan rasa “gengsi” dengan Indonesia? Atau mereka lupa dengan tanah airnya, karena keasyikan bersahabat dengan negara tetangga yang memiliki bendera putih merah, semisal Polandia?

Tentu memang sekadar bendera. Tapi bukan soal bendera atau salah kaprah, atau karena sahabat. Namun, soal nasionalisme. Memasang bendera terbalik, sama saja dengan melalaikan terhadap nilai-nilai  identitas Indonesia. Dan tindakan kelalaian itu meracuni pada tumbuh kembangnya nasionalisme. Acuh tak acuh pada nasiolisme berarti tidak senang pada Indonesia. Tak butuh alasan, apakah karena dimadu, sebab ada wanita lain mirip Polandia, atau terpengaruh perawakan elok mirip Cina? Yang jelas, Indonesia bukan seperti wanita jelek yang siap dimadu.

Andai Indonesia ibarat orang yang bisa bicara, niscaya ia akan bersuara, ”saya masih memiliki kesederhaan dan kesopanan”.  “Dan kesederhanaan itu termaktub dalam beberapa suku dan budaya. Kesederhanaan banyak dimiliki dan dipertahankan oleh mereka yang hanya kerjaannya sebagai tukang pentol, penjual kripik singksong, tukang rujak, tukang bubur dan lainnya. Biasa kita menyebutnya dengan PKL”.

Pedagang Kaki Lima tidak pernah gengsi menjual dagangannya walaupun sekelas bubur ataupun kripik singkong. Bagi mereka, daripada sibuk “menjual” jubah dan sorban, lebih baik berdagang. Karena biasanya, ketika kita orang terlalu sibuk berbicara soal jubah dan sorban, mereka lupa melepas penat untuk sekadar makan kripik maupun bubur. Padahal, saat kita sedang jenuh, seharusnya istirahat. Sebut saja tukang bubur naik haji, tentu itu tidak hanya sebatas tindakan kolot dan cerita fiktif. Tetapi film tersebut juga mengandung rasa nasiolisme,yakni soal bubur!

Menyinggung tukang bubur naik haji, bukan karena saya mendapat bayaran iklan layaknya presenter. Tetapi, marilah sedikit berpikir sederhana, sekalipun hanya sesederhana kripik dan bubur. Seharusnya kita lebih bangga pada bubur daripada penjual jubah dan sorban. Jubah dan sorban merongrog nasionalisme, namun pentol dan bubur menyuburkan nasionalisme.

 

Oleh:  TIM HUMAS

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *