Nasionalisme Kaum Sarungan

 Menyimak semangat nasionalisme kaum sarungan saat peritangatan kemerdekaan Indonesia kali ini, layaknya minum kopi pagi. Mata kembali berbinar, suara lantang menyerukan kehangatan pikiran dan merangkum keinginan, bahkan saraf-saraf kendor menampakkan ketegarannya. “Semangat pagi, ayo bendera kibarkan lagi”. Begitu adagium kaum sarungan munculkan, sambil melafalkan,”Selamat Ulang Tahun Indonesia ke-72”.

Timbulnya semangat kaum sarungan merayakan kemerdekaan, bukan semata-mata karena egoisme mereka tinggi. Tak bermaksud pula ingin dipuji, mengalihkan perhatian masyarakat yang telah  emoh dengan sebuah aliran yang terus mencaci. Mencaci sesama dan negeri. Bukan itu tujuannya. Mereka merapatakan barisan, melaksanakan upacara kemerdekaan sebab mengingat bahwa dirinya merukapan bangsa yang memiliki tanggung jawab untuk terus menyuburkan nasionalisme.

Rasa cinta kaum sarungan pada negeri, tidak mereka samakan dengan cinta lokasi (cinlok), seperti halnya cerita dalam sebuah novel. Mereka mengasihi negeri dengan genggaman cinta sejati. Gaung dan cinta mereka, karena ingin untuk semakin mengkohkan Indonesia dari berbagai sendi.

Mereka mengenang pula, bagaimana kegigihan perjuangan KH. Hasyim Asy’äri perang suci kemerdekaan Indonesia. Jika kita membaca lagi sejarah 10 November 1945 seseungguhnya tidak bisa dipisahkan dari peran fatwa resolusi jihad yang menggerakkan warga dan juga kalangan santri untuk menghangtam pasukan sekutu disurabaya.

Sehingga tidak heran bila kaum sarungan yang kita sebut dengan santri itu, juga iku andil merayakan kemerdekaan. Santri Annuqayah, sebuah pesantren ujung timur Pulua Madura bersama-sama melaksanakan upacara. Begitu juga, Pesantren Saikhona Kholil Bangkalan mengibarkan Bendera raksasa saat upaca kemerdekaan. Termasuk pula, pesantren-pesantren kecil, berpartisipasi untuk sekadar membaca pancasila di hari kemeedekaan.

Perayaan kemerdekaan bagi santri suatu momen penting dan bersejarah untuk selalu diingat, dengan cara membaca pancasila dan UUD 45. Sebab Indonesia tanpa pancasila kehilangan identitas, sepertihalnya media tanpa Mata Najwa kehilangan pandangan.

 

Oleh: team HUMAS  




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *