Dandan Menor, Bikin Tumor

 

Setiap kali saya keluar rumah, baik di jalan umum bahkan di pelosok-pelosok sekalipun  dandan menor  menjadi pemandangan nyata.  Kaum menor memoles dirinya sedemikian elok  merupakan tuntutan sebuah tradisi. Entah tradisi apa namanya saya belum paham. Yang jelas, mereka sedang menuju/pulang  dari sebuah sukuran yang dikemas dengan berbagai acara kesenian.

Untuk sementra, mungkin bisa disebut tradisi mantenan, namun belum agamis. Sebab hanya kesepakatan setempat melakukan sukuran lengkap dengan seni musik tradisional. Sebut saja, Seni Tayub.  Musik Tayub merupakan ramuan dari beberapa alat musik tradisional yang dianut sebagi sebuah tradisi masyarakat tertentu. Terutama masyarakat madura, termasuk pula sumenep Timur Daya.

Masih soal kesenian tradisional, kita kenal juga musik saronen misalnya. Instrumen musik tradisional mirip obo, tetapi berpelindung mulut dari tempurung kelapa hampir menyerupai kumis. Saronen telah menjadi istilah, dari lama dan seringnya dipamerkan. Sekalipun sebenarnya musik tersebut berkomposisi gong, kempul, bonang, kenong, gendang, dan simbal kecil.

Dau macam musik tersebut menjadi target acara tahunan bagi masyarakat tertentu, dalam rangka tasakuran tunangan dan pernikahan anak-anak mereka. Terlepas apakah mereka tergolong, masyarakat penyandang ekonomi kelas menengah atau menengah kebawah. Walaupun termasuk kelas ekonomi menengah ke bawah, tetapi musik tersebut menjadi kesenangannya bukan masalah.  Kantong baju  kempis sekalipun  masih mencari alternatif untuk bisa jos kalau musik Tayub sedang Tayang. Pecinta musik demikian, bisa kita golongkan sebagai penganut musik yang rosionalis.

Bagi sebagian kalangan, momen pameran musik tayub menjadi acara penting, seakan melebihi hal-hal sakral semisal hari lebaran/jum’at manis. Masih belum luntur dalam ingatan saya, hanya dalam hitungan hari setelah lebaran, tepat malam jum’at manis, lengking tabuhan rep-repan, semacam gendang, seruling dan sejenisnya menghiasi sejauh telinga mendengar.

Kalau musik tayub dinyalakan, terdengar dari ruas-ruas arah, maka dandan-dandan menor mulai menghiasi tubuh-tubuh mereka. Wajah dimanjakan dengan sejumlah penambah kecantikan, dan tubuh tertutup kain-kain mahal sekelas sutra. Sarung sekelas Lamiri bagi yang cowok juga tidak terlupakan untuk dipakai. Mereka berdandan menor alasannya sederhana, ialah hanya ingin nyabe’ /mabeli tengka (memberi/mengembalikan hutang/barang pinjaman) baik berupa, beras, uang dan lain-lain.

Tengka ini menurut pengetahuan mereka; bukan saya, merupakan bagian dari hutang/barang pinjaman yang harus dikembalikan. Mampu/tidak kalau tiba saatnya dikembalikan tidak boleh ditawar. Begitulah sekilas tengka yang telah mentradisi di bagian masyarakat tertentu. Selah-olah tengka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebutuhan ekonomi mereka.

Soal tengka, entah tafsir apa yang digunakan memaknai tengka sebagi akad hutang/barang pinjaman. Tapi yang jelas, bukan tafsir “Jalalain”. Kalau “jalan lain” mungkin saja.   

Oleh: Yondriani Akbar

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *