Pohon Bukan Alat mengantung Diri

Mengunduli hutan merupakan bencana bagi generasi masa depan. Longsor dan banjir seringkali melanda adalah sebagai salah satu konsekuensi dari perbuatan amoral manusia pada hutan/bumi. Keutuhan hutan dan kesuburan bumi dirampas dengan cara melakukan tindakan penebangan liar; suatu perbuatan yang harus dihentikan.

Membelenggu tangan para penebang liar dengan cara meneriakkan penanaman pohon, satu tindakan efektif dari pada harus memenjara dan atau bahkan menghukum mati. Sekalipun mereka, penebang liar memang tidak dibenarkan secara hukum, karena telah merusak alam. “Lalu, bagaimana kita akan santun pada manusia, jika pada daun yang jatuh saja belum santun,” demikian adagium yang seharusnya selalu digaungkan.

Oleh sebab itu, mari lestarikan bumi dengan cara menanam pohon. Tindakan menanam pohon dapat dinilai sebagai prilaku majahid nasionalis yang dihembuskan dalam perbuataannya menjaga kesuburan bumi. Jika bumi subur dipastikan manusia dan seluruh generasi akan selamat dari fenomena alam; mulai dari penyakit longsor, banjir dan lain-lain.

Dengan cara menanam pohon, berarti kita menjaga kesehatan manusia dari wabah penyakit alam. Sebab, melestarikan/menghijaukan bumi berarti merawat manusia. Satu pahala bernilai humanis telah telah dapatkan. Kita meraih pula pahala kedua dalam bentuk sikap nasionalis, sebab telah merawat kehijauan bumi dengan beberapa pohon.

Soal penghijauan bumi, tanggal 28 November merupakan momen yang telah disahkan sebagai hari menanam pohon indonesia. Pohon adalah detak jantung kesuburan alam. Selamat hari menanam pohon indonesia. Dan sebagian keselamatan hidup kalian juga bergantung pada pohon; asal jangan pohon jadikan alat menggantung diri, demikian kan?




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *